Oleh : Citra Lardiana P.
Terhenyak,..ketika melihat seorang lelaki kurus dengan janggut yang melambai. Dia jalan bersama 3 orang gadis,..Permisi mba…Auditorium dimana ya? “Tanya salah seorang gadis dari mereka.
“Lurus, belok kanan, terus lurus terus..” jawabku dengan penuh semangat. Tak segan2, aku langsung menanyakan asal mereka.
“Oia pak, saking pundi?”
Saking Tegal…”Jawab seorang bapak dengan logat Tegalnya.
Dengan bahagianya aku juga menyatakan hal yang sama…”Aku juga dari Tegal loh Pak,..
Begitulah ekspresiku akan kebanggaan daerahku,..hoho…
Beberapa saat berbincang, aku meninggalkan mereka dan berharap bisa bertemu kembali.
Sesaat kemudian, aku dapati seorang lelaki kurus dengan 2 gadis bersamanya, mungkin yang satu lagi registrasi. “Pikirku..”
Aku langsung menghampiri mereka dan mengucapkan salam. Kupersilahkan mereka untuk istirahat di stand anak2 Tegal. Lama kita berbincang, saling menyapa sampai cerita sana-sini. Oh, aku kira lelaki kurus itu adalah bapak mereka. Ternyata beliau adalah om mereka. Aku melihat lelaki kurus itu tak pernah merasa capek, walaupun tergopoh-gopoh mengurus keperluan keponakannya, tapi masih saja tersirat pancaran ketulusan dalam wajah beliau. Subhanallah,..
Singkat cerita, aku menghantarkan salah satu gadis yang berinisial ‘R’ ke stasiun poncol. Kita asyik saling berbagi cerita tentang kehidupan kampus, rumah dan keluarga. Ternyata orang tua ‘R’ sudah berpisah, upz…aku langsung terdiam dan tak melanjutkan perbincangan tentang orang tuanya. Maafkan aku, dek…”kataku dalam hati.” Dalam beberapa kasus, aku melihat seorang anak yang notabene dari “Broken home” menjadi anak2 yang susah di atur, kadang nakal dan berbuat seenaknya, ada yang lebih tragis sampai dia lari dari masalah dengan menggunakan obat2an terlarang. Astaghfirullahalazim..
Dan yang aku lihat sekarang adalah seorang akhwat yang luar biasa, dia mampu membuktikan kepada dunia bahwa anak “Broken home” juga mampu hidup tegar dan selalu optimis. Dia mampu menikmati hidup ini dengan sabar dan syukur,..yach aku bisa belajar darimu.
Lanjut cerita, selama ini yang membantu biaya kuliah dan urusan lainnya adalah lelaki kurus tadi yang tak lain adalah om 2 gadis yang bersamanya. Dan kudapati kisah lelaki bertubuh kurus itu, lelaki yang hanya berjualan buku dan usaha lainnya. Semua ini demi perjuangan beliau untuk bisa membantu keponakan2nya dalam menggapai cita dan memberikan spirit serta kekuatan dalam menjalani hidup. Beliau sungguh berhati mulia. Menolong dan membantu keponakannya dengan sepenuh hati. Tak butuh pamrih, karena beliau ikhlas memberi. Memberi seakan2 menerima, memberi menuai banyak manfaat, dengan memberi hati menjadi lapang. Memberi dan teruslah memberi kebermanfaatan kepada orang lain.
Hal ini mengingatkanku. Sudahkah aku berbuat baik dengan setulus2nya? Sudahkah aku menjadi manusia yang memberikan manfaat kepada orang lain? Sudahkah aku ikhlas memberi? Ikhlas, kata yang mudah diucapkan, kadang sulit direalisasikan. Nyatanya, seringkali tlah terucap kata ikhlas,..tulus,..tapi hati??? Kadang masih saja menolak, marah, benci, berteriak, sedih, menangis. Astaghfirullahalazim....
Kejadian ini mengingatkanku akan kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Allah tidak mempertemukan kita dengan seseorang, kecuali ada pelajaran yang dapat kita ambil”. Juga taushiyah seorang kawan, “Setiap kejadian bukanlah tanpa makna, melainkan ia adalah tarbiyah dari Allah”.
Teringat sebuah untaian kata dari Ust. Solikhin Abu Izzudin dalam bukunya “Happy Ending Full Barokah”, Jadikanlah setiap detik adalah kerja ikhlas dengan amal heroik, setiap detik adalah kerja cerdas dengan karya yang tercetak, setiap tetes keringat adalah kerja kerja keras sebagai syukur nikmat, setiap tetes airmata adalah kerja mawas sebagai lautan maghfirah dan jadikanlah setiap tetesan darah adalah kerja tuntas jihad untuk melaundry dosa.
Syukron jazakallah Pak… atas ‘pelajaran’ yang telah Bapak berikan padaku. Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan setiap ayunan langkah kita.
Rabu, 09 Juni 2010
Sabtu, 06 Maret 2010
Lagi2,,,gerbong ekonomi...
Ehm,,,resah dan gelisah menunggu si abah...di depan pintu masuk, aku dan teman2 DPM terpaksa menunggu bocah imut (lucu kali yach...), marah, kecewa, bercampur aduk jadi satu kayak es lontrong...di telpon, di sms berulang2...Jawabnya hanya satu "Sudah Dekat"...Huft,,,tak juga muncul...!!! Jam menunjukkan pukul 17.55 WIB,,5 menit lagi kereta melaju. Antara tiket di tukar atau menunggu bocah itu. Sang masinis dengan sabar menanyakan kepada satpam,,,masih nunggu pak..Haduch,,ne bocah ga datang juga...Singkat ku minta tiket abah dari rozak,,dan ku ingin segera keluar menukar tiket tersebut. Walaupun dapat 50%,,lumayanlah "Pikirku..."
Tiba2,,depan pintu masuk ku lihat sosok yang dicari2...Alhamdulillah,,,Abah...inginku remas2 dan mencubitnya...Tapi keinginanku pudar karena ku tersadar, dia bukan mahramku.Heeeee,,,Secepat kilat ku ajak teman2 yang lain untuk segera masuk ke gerbong kereta..
Tiba2,,depan pintu masuk ku lihat sosok yang dicari2...Alhamdulillah,,,Abah...inginku remas2 dan mencubitnya...Tapi keinginanku pudar karena ku tersadar, dia bukan mahramku.Heeeee,,,Secepat kilat ku ajak teman2 yang lain untuk segera masuk ke gerbong kereta..
Kamis, 25 Februari 2010
Di Sudut Gerbong Kereta Ekonomi...
Di sudut gerbong kereta ekonomi,,,
Sunyi, sepi…udara dingin yang menusuk tulang tak melunturkan semangatku..Kulihat HaPeku masih menunjukkan jam 5 pagi, AKU HARUS PULANG..!! “ucapku dalam hati.” Rindu yang membuncah dalam kalbu untuk bertemu dengan sosok perempuan yang luar biasa dimana “Surga di bawah telapak kaki ibu” dan Rasulullah berkata : Berbaktilah kepada Ibu…Ibu…Ibu…kemudian baru bapakmu,,Subhanallah Ibu di ucapkan 3 kali baru bapak…betapa mulianya seorang ibu,,,yang bapak2 jangan ngiri yach,,heeeeeeee
Teringat semasa kecilku, ketika di kelas Ibu guru berkata “Surga di bawah telapak kaki ibu” kata2 tersebut membekas dalam hati kecilku.Sesampainya di rumah “Assalamu’alaikum…” ucapku dengan penuh semangat,tak ada jawaban..aku masuk ke rumah mencari-cari ibu..di kamar, dapur, kamar mandi dan segala sudut rumah tak ku temukan, aku ingin segera melihat surga. Masih terngiang di benakku, kata ibu guru “di surga, ada mata air yang memancar dan banyak buah-buahan, dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan ketika bisa tinggal di surga.” Itulah kepolosan seorang anak kecil…begitupun aku dan anak2 kecil lainnya. Ooh,,,Ibu dimana??? Ucapku resah…aku mulai menangis sejadi-jadinya karena aku pikir, aku tak bisa melihat surga. Ibu,,,kau dimana??? Aku ingin melihat surga…suaraku mulai serak.
Assalamu’alaikum… ku dengar ada yang berucap salam,,,aku lelah, mataku sakit dan agak bengkak,tak terasa tangisan ini membuatku ketiduran. Suara itu tidak asing bagiku. Wa’alaikumussalam,,aku segera meloncat dan menghampiri suara itu, ternyata di hadapanku adalah Ibu. Sosok yang kutunggu kedatangannya, kucium tangannya dan kupeluk tubuhnya. Teringat kata2 ibu guru, aku langsung meminta ibu memperlihatkan kakinya kepadaku. Ibu heran dan bertanya “Ada apa nak?” dengan penuh semangat aku menjawab “ingin melihat surga”. Ibu tersenyum dengan guratan wajah yang tidak muda lagi tapi masih terlihat cantik, Ibu berkata “Anakku, jadilah anak yang sholeh/sholehah, Ibu akan senang.”
Mba’ dah siap??? “gita mengingatkanku..
Aku terhenyak dalam lamunanku,,,kita segera menuju stasiun poncol, stasiun kebanggaanku...lebih dari 3 tahun aku menghampirimu tuk menunggu sang pangeran (kereta api.red), heeeee...Motor Vega R menemani perjalananku ke poncol,,ooh dunia seakan milik kita berdua (aku dan gita) karena malam masih sunyi. Hanya ada satu, dua motor yang melintas. Subhanallah…di dataran trangkil, aku menikmati panorama alam yang luar biasa…bisa melihat keindahan lampu2 Masjid, rumah, gedung, restoran, de el el seperti bintang-bintang yang cahayanya tak akan pernah padam, awan yang masih gelap gempita, pohon-pohon yang menjulang tinggi, kesunyian alam dan hembusan angin semakin menguatkan keimananku pada Sang Maha Pemilik Jagat Raya ini.
Alhamdulillah sampai juga di poncol hanya dengan menghabiskan waktu sekitar 18 menit untuk perjalanan. Perjalanan yang menyenangkan, karena impianku adalah PEMBALAP..bisa kebut2an, heeeeee. Suasana masih sepi. Aku langsung menuju loket dan masuk ke stasiun. Astaghfirullah, keretanya agak telat karena lagi diperbaiki. Aku mulai resah, tapi harus “positive thinking” kereta kan juga punya hak untuk di rawat. Okelah kalo begitu,,,Sabar bRo…penenanganku dalam hati.
Singkat cerita, kereta datang dan berbondong-bondong penumpang ingin segera memasuki pintu kereta termasuk aku. Alhamdulillah, tidak terlalu penuh. So, aku dapat tempak duduk yang cukup nyaman. Awalnya kunikmati perjalanan ini dengan membaca “Mencari Pahlawan Indonesia” karya Pak Anis Matta. Buku yang luar biasa, Menurut pak Anis Matta “Pahlawan dari generasi sahabat punya daya cipta sarana materi di tiga wilayah : di medan perang, dalam pencaturan politik dan di dunia bisnis. Abu bakar dan Utsman bin Affan biasa menginfakkan total hartanya bukan sekedar marginnya, untuk memulai usaha dari nol kembali, karena mereka yakin pada kemampuan daya cipta sarana materi mereka. Umar bin Khattab dan Abdurahman bin Auf selalu menyedekahkan 50% hartanya untuk ummat. Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid, keduanya adalah petarung sejati dan pebisnis sejati.
Berkata Umar : “Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis.” Ini menjelaskan mengapa generasi sahabat bukan hanya mampu memenangkan seluruh pertempuran, tapi juga mampu menciptakan kemakmuran setelah mereka berkuasa.
Yang menjadi pertanyaanku adalah apakah sudah ada sosok pahlawan di Indonesia seperti Sahabat-sahabat Rasulullah? Demikian bisa dijadikan renungan bersama. Semoga pahlawan itu adalah aku, kamu dan kita semua. Amin…
Beberepa menit kereta melaju dan lagi asyik2nya membaca buku, gludakzt… ada gelagat tidak beres dari beberapa laki-laki di gerbong belakang, sudut gerbong yang cukup nyaman buatku. Mereka mengeluarkan sebatang rokok dan cer menghidupkan korek api dengan rasa yang tak bersalah. Awalnya aku cuek, acuh dengan tetap melahap buku yang dipegangku. Huft,..tiba-tiba ku tutup buku itu dan berucap PARA PEROKOK ITU BENER2 EGOIS…!!! Gumamku dalam hati. Teringat millist seorang kawan di seberang sana.
Pernahkah terbesit, kl para perokok itu sangatlah egois??ya, ku pikir memang begitu. mereka merokok tanpa memperdulikan tempat dan siapa orang yg ada disekitarnya demi kesenangan dirinya.tak jarang mereka merokok justru ditempat2 yg penuh sesak oleh orang2 dan minim sirkulasi udara. yup, yg sering qta lihat di kendaraan2 umum. tak menghiraukan ada anak2 or bahkan bayi didekatnya. entah mereka ga sadar, ga tau, atau memang ga mau tau!! dengan penuh kenikmatan, rokok di hisap dan mengepulkan asap seenaknya. kenikmatan bagi mereka dan penderitaan bagi orang lain. hobi merokok, tercapainya ketenangan, penghilang stress dan 1001 alasan lainnya dijadikan pembenaran atas aktivitas merokoknya. tidak hanya mendzolimi dirinya sendiri, tapi juga orang lain. jangankan menghargai orang lain, menghargai dirinya sendiripun tidak bisa. sepertinya bila belom ada yg menyatakan keberatan "maaf mas, rokoknya bisa dimatikan?kasian ada bayi dan anak2." atau dengan mengibas-ngibaskan tangan menghalau asapnya tanda sangat tergangggu, mereka tetap melanjutkan aktivitas tersebut . memang merokok itu adalah hak setiap orang. tapi bukankah dalam hak seseorang itu selalu ada hak orang lain sebagai batasannya??tidak ada hak yg absolut di dunia ini (inget pelajaran PPKN :D).
akan lebih bijak, bagi perokok aktiv yg akan melakukan aktivitasnya, carilah tempat yg tidak ada perokok pasif didalamnya misal dalam smoking room. menurut penelitian (lupa sumbernya), jika perokok pasif sering berada dalam komunitas perokok aktiv dalam jangka waktu lama, kondisi paru2nya akan sama kronis dengan perokok aktiv.
so, bagi para pecandu rokok, "kl mau minum racun, minum aja sendiri. jangan mengikutsertakan orang2 yg ingin hidup sehat wal afiat" hehhehe
mohon maaf bagi yg tersinggung. hanya ingin sharing aja. peace ah
Ya,,,aku sepakat dengan statement2 di atas..Tapi nyaliku mungkin masih kecil, aku tak berani berucap. Sapu tangan berwarna pink, ku buat untuk menutup hidungku, kanan kiriku tak menghiraukan dengan para perokok itu karena mereka menikmati tidurnya. Aku hanya bisa mengingkari dalam hati dan ber-SMS ria dengan teman-teman biar ga terlalu focus dengan mereka. Dan ku ganti status FB-ku dengan “Para PEROKOK itu bener2 egois…!!!” dan beberapa comment yang masuk emang sepakat dengan pendapatku, tapi sayang pajak terbesar di Indonesia bersumber dari perusahaan rokok..Huft,,menyesal tiada arti…tapi bagaimana kita harus mengubah paradigma berfikir masyarakat tentang rokok. Kadang dalam benakku berkata “Apa para lelaki itu ga inget umur?” heeeeee,,,
Satu demi satu penumpang turun di stasiun tujuannya masing-masing. Aku sedikit lega, karena para perokok itu sudah tidak di gerbong ini lagi. Kini, kesabaranku di uji kembali. Sepasang suami isteri atau mungkin muda-mudi (pacaran.red) duduk dekat di sampingku. Astagfirullah,,,bukannya berburuk sangka..kok mereka melakukan hal-hal yang tidak sedap dipandang mata (maksudnya mataku),,pengin muntah dan ingin segera menyingkir..tapi ga enak dengan penumpang lainnya. Ya…lagi2 pengingkaran dalam hati dan itu selemah-lemah iman, teringat sebuah hadits :
Dari Abu Sa’id Al Khudri ra. Berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika ia tidak mampu maka denagn hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Astaghfirullah,,,bener2 jaman sudah edan (kata beberapa orang). Tapi dipikir2, ada benernya coz banyak sekali seks bebas, narkoba dan kenakalan2 remaja lainnya. Tidak hanya itu, KKN masih mencekik negeri ini. Ayo saudara2ku, kita ubah negeri yang kita cintai menjadi negeri yang penuh barokah. Amin..
Tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Slawi, mengingatkanku untuk segera turun. Alhamdulillah, Allah masih memberikan perlindungan kepadaku. Sssst,,,tak seperti biasanya, pangeran kecilku tak bisa menjemputku…Alhasil aku harus naik angkutan umum (angkot.red) dengan kesabaran menunggu kembali. Ooh,,,selamat tinggal keretaku tercinta…di sudut gerbong ekonomi, kudapatkan hikmah yang luar biasa. Benar apa yang dikatakan sahabat “setiap kejadian yang kita temui pasti ada hikmahnya…”
Kini,,perjalananku masih panjang…SEMANGAT n ISTIQOMAH…!!! Allahu Akbar…
Sunyi, sepi…udara dingin yang menusuk tulang tak melunturkan semangatku..Kulihat HaPeku masih menunjukkan jam 5 pagi, AKU HARUS PULANG..!! “ucapku dalam hati.” Rindu yang membuncah dalam kalbu untuk bertemu dengan sosok perempuan yang luar biasa dimana “Surga di bawah telapak kaki ibu” dan Rasulullah berkata : Berbaktilah kepada Ibu…Ibu…Ibu…kemudian baru bapakmu,,Subhanallah Ibu di ucapkan 3 kali baru bapak…betapa mulianya seorang ibu,,,yang bapak2 jangan ngiri yach,,heeeeeeee
Teringat semasa kecilku, ketika di kelas Ibu guru berkata “Surga di bawah telapak kaki ibu” kata2 tersebut membekas dalam hati kecilku.Sesampainya di rumah “Assalamu’alaikum…” ucapku dengan penuh semangat,tak ada jawaban..aku masuk ke rumah mencari-cari ibu..di kamar, dapur, kamar mandi dan segala sudut rumah tak ku temukan, aku ingin segera melihat surga. Masih terngiang di benakku, kata ibu guru “di surga, ada mata air yang memancar dan banyak buah-buahan, dan masih banyak lagi kenikmatan-kenikmatan ketika bisa tinggal di surga.” Itulah kepolosan seorang anak kecil…begitupun aku dan anak2 kecil lainnya. Ooh,,,Ibu dimana??? Ucapku resah…aku mulai menangis sejadi-jadinya karena aku pikir, aku tak bisa melihat surga. Ibu,,,kau dimana??? Aku ingin melihat surga…suaraku mulai serak.
Assalamu’alaikum… ku dengar ada yang berucap salam,,,aku lelah, mataku sakit dan agak bengkak,tak terasa tangisan ini membuatku ketiduran. Suara itu tidak asing bagiku. Wa’alaikumussalam,,aku segera meloncat dan menghampiri suara itu, ternyata di hadapanku adalah Ibu. Sosok yang kutunggu kedatangannya, kucium tangannya dan kupeluk tubuhnya. Teringat kata2 ibu guru, aku langsung meminta ibu memperlihatkan kakinya kepadaku. Ibu heran dan bertanya “Ada apa nak?” dengan penuh semangat aku menjawab “ingin melihat surga”. Ibu tersenyum dengan guratan wajah yang tidak muda lagi tapi masih terlihat cantik, Ibu berkata “Anakku, jadilah anak yang sholeh/sholehah, Ibu akan senang.”
Mba’ dah siap??? “gita mengingatkanku..
Aku terhenyak dalam lamunanku,,,kita segera menuju stasiun poncol, stasiun kebanggaanku...lebih dari 3 tahun aku menghampirimu tuk menunggu sang pangeran (kereta api.red), heeeee...Motor Vega R menemani perjalananku ke poncol,,ooh dunia seakan milik kita berdua (aku dan gita) karena malam masih sunyi. Hanya ada satu, dua motor yang melintas. Subhanallah…di dataran trangkil, aku menikmati panorama alam yang luar biasa…bisa melihat keindahan lampu2 Masjid, rumah, gedung, restoran, de el el seperti bintang-bintang yang cahayanya tak akan pernah padam, awan yang masih gelap gempita, pohon-pohon yang menjulang tinggi, kesunyian alam dan hembusan angin semakin menguatkan keimananku pada Sang Maha Pemilik Jagat Raya ini.
Alhamdulillah sampai juga di poncol hanya dengan menghabiskan waktu sekitar 18 menit untuk perjalanan. Perjalanan yang menyenangkan, karena impianku adalah PEMBALAP..bisa kebut2an, heeeeee. Suasana masih sepi. Aku langsung menuju loket dan masuk ke stasiun. Astaghfirullah, keretanya agak telat karena lagi diperbaiki. Aku mulai resah, tapi harus “positive thinking” kereta kan juga punya hak untuk di rawat. Okelah kalo begitu,,,Sabar bRo…penenanganku dalam hati.
Singkat cerita, kereta datang dan berbondong-bondong penumpang ingin segera memasuki pintu kereta termasuk aku. Alhamdulillah, tidak terlalu penuh. So, aku dapat tempak duduk yang cukup nyaman. Awalnya kunikmati perjalanan ini dengan membaca “Mencari Pahlawan Indonesia” karya Pak Anis Matta. Buku yang luar biasa, Menurut pak Anis Matta “Pahlawan dari generasi sahabat punya daya cipta sarana materi di tiga wilayah : di medan perang, dalam pencaturan politik dan di dunia bisnis. Abu bakar dan Utsman bin Affan biasa menginfakkan total hartanya bukan sekedar marginnya, untuk memulai usaha dari nol kembali, karena mereka yakin pada kemampuan daya cipta sarana materi mereka. Umar bin Khattab dan Abdurahman bin Auf selalu menyedekahkan 50% hartanya untuk ummat. Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid, keduanya adalah petarung sejati dan pebisnis sejati.
Berkata Umar : “Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis.” Ini menjelaskan mengapa generasi sahabat bukan hanya mampu memenangkan seluruh pertempuran, tapi juga mampu menciptakan kemakmuran setelah mereka berkuasa.
Yang menjadi pertanyaanku adalah apakah sudah ada sosok pahlawan di Indonesia seperti Sahabat-sahabat Rasulullah? Demikian bisa dijadikan renungan bersama. Semoga pahlawan itu adalah aku, kamu dan kita semua. Amin…
Beberepa menit kereta melaju dan lagi asyik2nya membaca buku, gludakzt… ada gelagat tidak beres dari beberapa laki-laki di gerbong belakang, sudut gerbong yang cukup nyaman buatku. Mereka mengeluarkan sebatang rokok dan cer menghidupkan korek api dengan rasa yang tak bersalah. Awalnya aku cuek, acuh dengan tetap melahap buku yang dipegangku. Huft,..tiba-tiba ku tutup buku itu dan berucap PARA PEROKOK ITU BENER2 EGOIS…!!! Gumamku dalam hati. Teringat millist seorang kawan di seberang sana.
Pernahkah terbesit, kl para perokok itu sangatlah egois??ya, ku pikir memang begitu. mereka merokok tanpa memperdulikan tempat dan siapa orang yg ada disekitarnya demi kesenangan dirinya.tak jarang mereka merokok justru ditempat2 yg penuh sesak oleh orang2 dan minim sirkulasi udara. yup, yg sering qta lihat di kendaraan2 umum. tak menghiraukan ada anak2 or bahkan bayi didekatnya. entah mereka ga sadar, ga tau, atau memang ga mau tau!! dengan penuh kenikmatan, rokok di hisap dan mengepulkan asap seenaknya. kenikmatan bagi mereka dan penderitaan bagi orang lain. hobi merokok, tercapainya ketenangan, penghilang stress dan 1001 alasan lainnya dijadikan pembenaran atas aktivitas merokoknya. tidak hanya mendzolimi dirinya sendiri, tapi juga orang lain. jangankan menghargai orang lain, menghargai dirinya sendiripun tidak bisa. sepertinya bila belom ada yg menyatakan keberatan "maaf mas, rokoknya bisa dimatikan?kasian ada bayi dan anak2." atau dengan mengibas-ngibaskan tangan menghalau asapnya tanda sangat tergangggu, mereka tetap melanjutkan aktivitas tersebut . memang merokok itu adalah hak setiap orang. tapi bukankah dalam hak seseorang itu selalu ada hak orang lain sebagai batasannya??tidak ada hak yg absolut di dunia ini (inget pelajaran PPKN :D).
akan lebih bijak, bagi perokok aktiv yg akan melakukan aktivitasnya, carilah tempat yg tidak ada perokok pasif didalamnya misal dalam smoking room. menurut penelitian (lupa sumbernya), jika perokok pasif sering berada dalam komunitas perokok aktiv dalam jangka waktu lama, kondisi paru2nya akan sama kronis dengan perokok aktiv.
so, bagi para pecandu rokok, "kl mau minum racun, minum aja sendiri. jangan mengikutsertakan orang2 yg ingin hidup sehat wal afiat" hehhehe
mohon maaf bagi yg tersinggung. hanya ingin sharing aja. peace ah
Ya,,,aku sepakat dengan statement2 di atas..Tapi nyaliku mungkin masih kecil, aku tak berani berucap. Sapu tangan berwarna pink, ku buat untuk menutup hidungku, kanan kiriku tak menghiraukan dengan para perokok itu karena mereka menikmati tidurnya. Aku hanya bisa mengingkari dalam hati dan ber-SMS ria dengan teman-teman biar ga terlalu focus dengan mereka. Dan ku ganti status FB-ku dengan “Para PEROKOK itu bener2 egois…!!!” dan beberapa comment yang masuk emang sepakat dengan pendapatku, tapi sayang pajak terbesar di Indonesia bersumber dari perusahaan rokok..Huft,,menyesal tiada arti…tapi bagaimana kita harus mengubah paradigma berfikir masyarakat tentang rokok. Kadang dalam benakku berkata “Apa para lelaki itu ga inget umur?” heeeeee,,,
Satu demi satu penumpang turun di stasiun tujuannya masing-masing. Aku sedikit lega, karena para perokok itu sudah tidak di gerbong ini lagi. Kini, kesabaranku di uji kembali. Sepasang suami isteri atau mungkin muda-mudi (pacaran.red) duduk dekat di sampingku. Astagfirullah,,,bukannya berburuk sangka..kok mereka melakukan hal-hal yang tidak sedap dipandang mata (maksudnya mataku),,pengin muntah dan ingin segera menyingkir..tapi ga enak dengan penumpang lainnya. Ya…lagi2 pengingkaran dalam hati dan itu selemah-lemah iman, teringat sebuah hadits :
Dari Abu Sa’id Al Khudri ra. Berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika ia tidak mampu maka denagn hatinya dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Astaghfirullah,,,bener2 jaman sudah edan (kata beberapa orang). Tapi dipikir2, ada benernya coz banyak sekali seks bebas, narkoba dan kenakalan2 remaja lainnya. Tidak hanya itu, KKN masih mencekik negeri ini. Ayo saudara2ku, kita ubah negeri yang kita cintai menjadi negeri yang penuh barokah. Amin..
Tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Slawi, mengingatkanku untuk segera turun. Alhamdulillah, Allah masih memberikan perlindungan kepadaku. Sssst,,,tak seperti biasanya, pangeran kecilku tak bisa menjemputku…Alhasil aku harus naik angkutan umum (angkot.red) dengan kesabaran menunggu kembali. Ooh,,,selamat tinggal keretaku tercinta…di sudut gerbong ekonomi, kudapatkan hikmah yang luar biasa. Benar apa yang dikatakan sahabat “setiap kejadian yang kita temui pasti ada hikmahnya…”
Kini,,perjalananku masih panjang…SEMANGAT n ISTIQOMAH…!!! Allahu Akbar…
Minggu, 07 Desember 2008
Sekuntum "Cinta" Pengantin Syurga

Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi
dakwatuna.com - “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,” Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.
Bila seorang kekasih telah singgah di hati, pikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnit. Rasanya selalu ingin bertemu meski sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.
Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.
Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenal sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melewati sebuah perkampungan yang banyak dihuni oleh kaum An-Nakha’. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak bersilaturahim dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya bersilaturahim itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.
Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Karena bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di ujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membuhul kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.
Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.
Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…
Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemukan. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.
Begitupun dengan si pemuda, dia berpikir cintanya harus terselamatkan! Agar tidak jadi liar, agar selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring sejalan dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah dipertunangkan dengan putera bapak saudaranya.
Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, samping kiri, atau samping kanan. Mereka sadar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, karena kalau tidak, justeru akan merusak ’anugerah’ Allah yang terindah ini.
Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar dari orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan menabrak tabu. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang karena sudah tak berguna. Jalan belakang ’back street’ tak ubahnya seperti anak kecil yang merusak mainannya sendiri. Penyesalan pasti akan datang belakangan, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.
Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berpikir barangkali masih ada celah untuk bisa ’diikhtiarkan’ maka rencanapun disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:
”Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan karenanya betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau berkenan, aku akan datang berkunjung ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mau datang ke rumahku.”
Setelah membaca isi surat itu dengan seksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada kurir pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.
“Kedua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”
Pulanglah kurir kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.
Tawaran ketemuan? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh heran bila saat ini orang suka menjadi korban dari amukan api yang meluluhlantakkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.
“Sungguh selama ini aku belum pernah menemukan seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelar yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan.” Si gadis berbangga dengan kesalehan kekasihnya.
Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemukan seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada ’Sang Pemilik Cinta’. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.
Bila kerinduan kepada kekasih telah membuncah, dan dada tak sanggup lagi menahahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwudlu. Shalatlah dia dikegelapan gulita, lalu menengadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkau ke semua wilayah yang tak dapat tersentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa karena rindu yang sudah tak tertanggungkan, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan saat tertidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.
Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke haribaanNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.
Cinta memang indah, bagai pelangi yang menyihir kesadaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merusak keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeda.
Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan kantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.
“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di alam mimpinya.
Gadis kekasihnya itu menjawab dengan menyenandungkan untaian syair:
Kasih…
cinta yang terindah adalah mencintaimu,
sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.
Cinta yang indah hingga angin syurga berasa malu
burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.
Mendengar penuturan kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”
Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:
Aku berada dalam kenikmatan
dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir
berada dalam syurga abadi yang dijaga
oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa
yang akan menunggu kedatanganmu,
wahai kekasih…
“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!” Pemuda itu mencoba merespon syair kekasihnya
“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab si gadis kekasihnya itu.
“Bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan
“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.
Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantismenya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.
Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia pada kehidupan hewani dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).
dari Raja’ bin Umar An-Nakha’i dll.
Jumat, 05 Desember 2008
Kamis, 04 Desember 2008
Menulislah
Bismillah...awan begitu cerah, tapi tak secerah hatiku. Entah kenapa semenjak aku terngiang namanya, hidupku terasa sepi. Ya Allah...muliakan hamba-Mu dengan cinta dan maghfiroh-Mu. Seperti biasa, aku melakukan berbagai aktivitas. Hari ini ada Stadium General. Aku segera membereskan semua yang aku perlukan. "Aku harus memperoleh ilmu dan hikmah" Ucapku dalam hati. Beberapa buku pribadi dan buku pinjaman sudah aku baca. Akhirnya aku memutuskan untuk membaca "Episode Cinta Sang Murabbi". Ketika sampai di acara SG, aku malah asyik membaca buku tersebut. Aku sadar, ini hal yang salah karena waktu yang tidak tepat. Harusnya aku memperhatikan materi yang disampaikan oleh fasilitator dari Direktur UMKM. Tapi sesekali, aku memperhatikan ucapan beliau. Subhanallah...motivasi yang ditujukan kepada peserta bahwa semua orang itu BISA. Aku yakin akan ucapan beliau. Jam menunjukkan pukul 12.10 Waktu Indonesia Berkarya, Yups...ungkapan yang tepat sekali. Dimana sudah saatnya bangsa ini untuk mencetak kembali kader2 bangsa yang akan mengubah peradaban dunia. Aku bergegas meninggalkan ruangan SG, aku teringat ada janji dengan Mas'ul FE untuk berdiskusi tentang penawaran kampanye lewat media internet. It's OK...kataku, coz aku emang menyukai media dan pengin belajar IT. Lagian, ini kepentingan dakwah yang harus aku raih, karena jalan ini yang aku pilih. Menyegerakan kebaikan. Sekitar 30 menit, aku berdiskusi dengan beliau. Dari mulai strategi media inetrnet sampai menanyakan kader FE itu sendiri. Sebenarnya aku agak canggung ketika berdiskusi tanpa ditemani mahram yang lain, tapi gimana lagi. Alhamdulillah, aku banyak memperoleh ilmu dari beliau. Aku cerna semua kata-kata yang beliau sampaikan dan aku akan berusaha untuk bisa mengaplikasikannya. Pesan singkat "Menulislah setiap hari...tulislah apa yang mau kau tulis...mulailah dari yang kecil" dan inilah secarik tulisan hasil karya sang melati yang akan se\lalu menyebar keharuman hingga semua orang merasakan kesejukan dari piawainya yang memikat hati setiap insan.
Hati,akal,iman&sahabat...
"Hati itu umpama kaca, jangan biarkan ia retak...Akal itu umpama air, jangan biarkan ia kering...Iman itu umpama debu, jangan biarkan ia hilang...Persahabatan itu umpama tali, jangan biarkan ia putus...Sahabat...Engkau adalah permata terindah yang selalu memberikan cinta dan semangat perjuangan."

Dapatkan Mesej Bergambar di Sini
Dapatkan Mesej Bergambar di Sini
Langganan:
Postingan (Atom)
