
Oleh : Citra Lardiana P.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Berjuta sms dan do’a dari saudara, teman, kerabat atas hari kelahiranku,..ya, semua mendo’akan untuk kebaikan hidupku ke depan. Rasa sedih, senang bercampur jadi satu karena orang2 di sekelilingku masih mengingat momentum special dalam kehidupanku dan bagi kebanyakan orang pada umumnya. Tidak perlu ada bingkisan yang besar atau perayaan yang mewah, bagiku semua itu tidak penting! Hanya sekedar ucapan dan do’a yang tulus, sudah cukup bagiku..insyaAlloh,..
Saudaraku,..apa yang sebenarnya kita pikirkan ketika hari ini adalah hari kelahiranmu?? Apakah kita berfikir bahwa kita masih muda?? Atau kita berfikir bahwa kita semakin tua?? Semua itu tergantung dari sudut mana kita memandang. Kadangkala kita merasa tua ketika sedang bersama adek2 kecil atau mungkin bayi yang baru lahir kemarin. Kadangkala kitapun merasa muda, ketika kita nge-date bareng nenek kita ke pasar,..hohoho,..ya semua itu bisa terjadi pada diri kita.
Entahlah,..beberapa waktu lamanya aku coba merenungkan segala rangkaian kehidupan yang aku alami. Rasanya baru saja kemarin aku adalah gadis kecil yang kurus, menggendong tas Tweety berwarna merah dan asyik bermain dengan teman2 sebayaku,..kadang kita bertengkar gara2 hal yang sepele, sampai ada yang nangis. Huft,..kenanganku bersama sahabat di desa..maklum anak kecil,..kini gadis kecil itu tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa..insyaAlloh,..
Tak terasa baru kemarin aku di terima di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Semarang, masa2 OKKA (Orientasi Kehidupan Kampus) menjadi kenangan tersendiri bagiku. Senang karena kegiatan ini adalah gerbang awal mahasiswa baru mengenal pernak pernik dunia kampus dan merasa capek untuk membuat ini itu yang menyita jatah tidurku, ehm..benar2 kenangan 4 tahun silam.
Sekarang, kulewati lorong panjang mengelilingi kampus tercinta, terbesit dalam pikiranku..4 bulan lagi aku akan meninggalkan tempat ini, laboratorium yang memberikan tarbiyah yang luar biasa. insyaAlloh Agustus aku harus Ujian Skripsi, amin. Sejenak ku berpikir, aku telah cukup makan asam garam di laut,..hehehe…mengikuti skenario Alloh yang cukup panjang dalam proses tarbiyah ini,..ya Aku bersyukur karena saat ini adalah kehidupanku yang terbaik. Aku senang bisa mengikuti berbagai organisasi di kampus yang terbingkai dalam dakwah dan ukhuwah yang begitu nyaman di hati,..tapi ada satu hal yang pengin aku katakan disini..
Saudaraku,..seindah apakah ukhuwah itu? Mari kita renungkan, apa yang antum rasakan selama ini? Nyamankan antum berada dalam komunitas dakwah ini? Mungkin secara tidak sadar , kita telah melalaikan ukhuwah di antara kita, saat senyum2 kita terasa hambar, saat kita merasa bekerja sendiri, saat kita merasa tidak dihargai akan hasil yang kita capai, saat tak seorangpun bisa memahami diri kita..
Saudaraku,..semoga dakwah ini membuahkan ukhuwah yang indah, yang menjadikan kenangan yang membuat diri ini selalu merindukan berada di barisan dakwah dan menjadi senyum2 kita menjadi senyum ketulusan dan penuh keikhlasan,..Amin
Kini, waktu berganti, detik masa berlalu…sampai 22 Tahun, begitu singkat!!! Tuakah aku??? Ato aku masih merasa muda? Ehm,,,relatif!!! Apa yang sudah aku lakukan??? Apa yang sudah aku perbuat untuk diriku, keluarga, bangsa, agama dan umat ini??? terlalu banyak waktu yang aku sia-siakan,.. Astaghfirullah,..
Teringat,..Imam Syafi’i yang berusia 9 tahun sudah hafal Al-Qur’an, usia 10 tahun sudah hafal 1.720 hadits dengan sempurna dan pada usia 15 tahun telah menduduki jabatan mufti (hakim agung) kota Makkah,..benar2 luar biasa
Sedangkan aku?? umur 22 tahun, baru hafal juz 30, itupun Lupa2 Inget…Hadist Arbain belum selesai,..Astaghfirullah..
Dan Muhammad Fathi Farahat yang belia itu, 17 tahun. Aku beberapa tahun lebih tua darinya, tapi aku merasa benar-benar malu, menyadari apa yang telah dibuatnya adalah sesuatu yang sangat besar. Ah, besar di mataku yang manusia ini mungkin sangat tidak penting, tapi ini adalah sesuatu yang BENAR-BENAR BESAR! Berkarya sedemikian rupa untuk RabbNya.
Semoga, pada umur yang ke-22 aku bisa menjadi lebih baik dan bisa mengukir prestasi untuk menorehkan tinta sejarah dalam peradaban ini. Amin,,
Klo antum gimana???
Bukan kita yang memilih takdir
Takdirlah yang memilih kita
Bagaimanapun, takdir bagaikan angin
Bagi seorang pemanah
Kita selalu harus mencoba
Untuk membidik dan melesatkannya
Di saat yang paling tepat
-Shalahuddin Al Ayyubi-
Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada, membeningkan hati dan jiwa seorang pemuda yang berusia 23 tahun. Ia tahu, hanya orang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik2 pasukan yang layak mendampinginya. Dan sejarah mencatat, obsesi tujuh abad itu (Konstantinopel) kini telah ditaklukan oleh “Muhammad Al Fatih”, hebat kan???
Saudaraku,..Berapa pun usia kita, tak ada kata terlambat untuk menjadi indan yang LEBIH BAIK. Banyak yang bilang, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali!!! Selama Alloh SWT masih berkenan memberikan kesempatan hidup untuk kita, sebenarnya kita masih punya kesempatan, untuk menorehkan tinta emas pada sejarah peradaban kita, dan mengabdikan diri untuk kemuliaaan umat Islam. Yeach…!!!Allohu Akbar!!!
Jatah hidup kita di dunia semakin berkurang, RENCANA MATI, RENCANA HIDUP…!!!
Mencita-citakan kematian??? Mungkin kata-kata ini seperti lelucon,..ingatlah saudaraku..orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan ajalnya dengan baik. Merencanakannya dengan do’a dan upaya? Ya, seharusnya memang begitu. Karena kita memiliki cita2 yang luar biasa ‘Hidup Mulia atau Mati sebagai Syuhada’. Maka alangkah bermakna seorang sahabat yang menolak rampasan perang dan berkata, “Tidak Ya Rasulullah, bukan untuk ini. Aku berperang agar ini!” Ia menunjuk satu titik di nadi lehernya. “Kalau dia jujur kepada Alloh”, kata sang Nabi, “Dia akan mendapatkan apa yang di cita2kannya.” Dan benar, di perang berikutnya ia mendapatkan sebuah anak panah menancap tepat di titik yang dulu dia tunjuk dengan jarinya. Subhanallah…
Saudaraku,..bekal apa yang sudah kita persiapkan?? Sudah cukupkah untuk menuju tiket syurga?
“Ya Alloh,..Jadikanlah sebaik-baik umurku adalah akhirnya, sebaik-baik amalku adalah penutupnya dan sebaik-baik hariku adalah hari dimana aku bertemu dengan-Mu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar